Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Seringkali, sangat sering, aku merasa nikmat yang diberikanNya begitu berlimpah-limpah; penjagaan yang begitu all-out; cinta yang begitu besar; pertolongan yang tidak disangka-sangka; jalan keluar yang datang dari arah tak terbayangkan; kemudahan-kemudahan…Semua, semua hadir tanpa kuminta. Ya. Tanpa kuminta.
Pasti. Pasti Alloh, Yang Maha Pengasih, tahu apa yang aku mau. Tanpa aku bilang pun, Alloh pasti memberi yang terbaik untukku, untukmu, untuknya, dan untuk semua hambaNya. Kadang aku merasa terlalu dimanja. Alloh terlalu baik. Alloh terlalu cinta. Dan itu semua membuatku GeER. Sangat GeER!! Bagaimana tidak? Diri ini, diri yang sangat dhoif ini, sering, sangat sering, melakukan kesalahan. Tak terhitung sudah salah dan dosa yang kuperbuat. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga menggunung tinggi. Astaghfirulloh…aku memang hamba yang tak tahu diri!
Amalan unggulan? Jangan ditanya. Aku gak punya. Banyak amanah dan kewajiban yang kulakukan hanya karena amanah saja, hanya karena wajib saja. Jarang sekali aku merasa butuh, meski terkadang aku juga pernah merasa butuh. Kebaikan? Ya Alloh, aku tak mengingat ada kebaikan yang kulakukan. Mungkin aku lupa. Tapi jika mengingat kesalahan yang kuperbuat, kebaikanku pasti tak seberapa. Jauuuuh….Tak ada apa-apanya. Astaghfirulloh…
Bersyukur. Ya. Tak ada yang bisa kulakukan selain itu. Bersyukur. Meski terkadang aku merasa gak berhak menerima semua-muanya. Gak pantes! Cinta itu, pertolongan itu, penjagaan itu, kemudahan-kemudahan itu, nikmat-nikmat itu, bagiku terlalu berlebih. Aku sampai bingung mau membalas apa. Amal ibadahku seumur hidup pun tak kan mampu untuk membayarnya. Gak mungkin bisa! Gak sebanding dengan 1 nikmat saja: ISLAM. Ya Alloh, bersyukurnya hmba terlahir menjadi muslimah. Belum lagi untuk udara gratisNya, bumiNya, airNya, langitNya, matahariNya, bulanNya, bintangNya, hujanNya, malaikat-malaikatNya, rizki, jodoh, semua…semua…Alhamdulillah. Lagian Alloh gak butuh balasan itu. Alloh sudah Mahakaya, Alloh maha terpuji dengan segala yang Ia punya.
Lalu, apa yang membuatku merasa berhak mendapat semua itu? Tak ada, jika dilihat dari diriku. Tapi, ada 1 hal yang membuatnya menjadi mungkin. Doa orang lain. Doa orang-orang sholih yang Alloh cintai. Doanyalah yang Alloh kabulkan. Mungkin, jauh di sana, entah di mana, seseorang menyelipkan namaku dalam doanya. Entah siapa. Ya Alloh…hadiah apa yang lebih indah dari seorang saudara selain doa?
Dulu, mungkin hadiah ini belum terasa penting olehku. Sampai aku benar-benar merasa betapa berharga arti doa seorang saudara semalam, saat sebuah SMS masuk ke inbox HPku. Begini bunyinya (tanpa mengubah apapun):
“SAYA BARU SAJA BERDOA UNTUK ANDA DIANTARA ADZAN & IQAMAT. SAYA BERDOA KEPADA ALLOH AGAR ANDA SELALU MENDAPAT PERLINDUNGAN & PERTOLONGAN DARINYA.” (18-mAY-09. 7: 11 PM)
Subhaanalloh, ternyata masih ada orang yang mau berdoa untukku. Meskipun dia memberitahukannya lewat pesan singkat itu, tapi aku merasakan ketulusan yang mendalam dari kata-katanya. Terima kasih…Terima kasih….Semoga Alloh juga memberi perlindungan dan pertolonganNya untuk Anda. Baarokallohu fiik…08180441****
Aku jadi teringat saat dirawat di RS dulu. Ada begitu banyak orang yang mendoakan kesembuhanku. Setahuku ada 3 orang yang memosting berita sakitku di MPnya: Mba Arie (di sini dan di sini), Mba Rahma, Akhuna Tegoeh. Ya Alloh, jadi terharu. Sangat. Jazaakumullohu Khoyron Katsiiro…Berkat doa kalianlah aku bisa sembuh dan bisa melanjutkan amanah-amanah yang belum selesai. Terima kasih…
“Pada Suatu Saat, di Dunia”
Di suatu tempat, entah di mana, di dunia
seseorang menunggumu, berdo’a
seperti do’a yang biasa kauucapkan sehabis sholat
Pada suatu saat, entah pabila, di dunia
seseorang merindukanmu, berdo’a
seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat
Seseorang menunggu, merindu, barjaga dan berdo’a
di suatu tempat, pada setiap saat
seperti engkau, selalu
[Ajip Rosidi, 1972]
Jangan pernah kau anggap sepele doa-doa mereka. Sudah untung dia masih mengingat nama kita, dalam doanya lagi! Itu berarti dia mengharap kebaikan untuk kita. Sempet-sempetnya. Padahal, urusan setiap orang itu banyak, masalahnya juga menumpuk, tapi masih mau mendoakan orang lain, gak sibuk dengan diri sendiri. Ya Alloh, aku malu…malu pada mereka. Maaf…Maaf karena belum optimal membawa banyak nama dalam doa. Semoga bisa lebih lama lagi aku duduk dan berdoa untuk semua, paling nggak setelah sholat, dan waktu-waktu mustajab lainnya.
Sudahkah kita berdoa untuk Saudara?
Untuk Ummat??
Untuk Ummat??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar